Transformasi Architecture dan Infrastructure
Setelah sekian purnama akhirnya nulis lagi
Kali ini storynya terkait dengan transformasi infrastructure dikantor saya, banyak asam manisnya mulai dari proses migrasi onpremis, ke cloud provider dan akhirnya menggunakan container di cloud provider.
Diakhir 2023 saya masuk sebagai software architect dengan persiapan pengalaman saya sebelumnya, akhirnya terlindas kenyataan bahwa infrastructure saat ini belumlah memadai dari sisi apa yang saya ingin terapkan.
Pelan-pelan kata atasan saya, akhirnya dengan modalkan kepercayaan dan coba pendekatan dengan leader yang bertanggung jawab setiap proses bisnis yang ada, pelan-pelan semua kode yang ada di VM saat itu mulai di containerkan dengan memanfaatkan docker compose sebagai orchestrasinya, dari transformasi ini akhirnya muncul kejadian (how to scale it). saat itu mau langsung gunakan kubernetes tapi tapi masih banyak yang menjadi kendala.
Setelah transformasi ke container Pekerjaan Rumah saya selanjutnya bagaimana mempercepat Deployment. dengan bermodalkan sok tahu saat itu (saya coba research semua tools CICD) akhirnya saya memanfaatkan Github Action, sembari hemat-hemat biaya dengan memanfaatkan gratisannya
Setelah pencarian fitur yang bisa dimanfaatkan akhirnya ada opsi MIG, lah kenapa gak pake app engine, saat itu saya masih ragu terkait cost apalagi experience saya gak pernah pake GCP jadinya dari pada ragu mending milih MIG (secara behaviour tidak jauh berbeda dengan VM untuk manage nya), dari sini bisnis terus berkembang akhirnya muncul pertanyaan lagi (scalenya is slow) jadinya tidak reliable untuk handle request yang datang secara tiba-tiba. 6 - 7 bulan berjibaku dengan keadaan akhirnya dipaksa untuk menggunakan Orkestrasi(kubernetes)
Nah saat menggunakan kubernetes, semua masalah teratasi namun sebagai seorang yang cukup peka dengan biaya akhirnya konsultasi terkait biaya dan tidak ada masalah terkait itu, 30an service waktu segera dimigrasi, dengan bantuan tim lainnya akhirnya tercapai. eeeh masih ada problem yang harus dicari solusinya bagaimana agar menjaga kualitas dan meminimalkan error yang bisa saja sampe di production, sebagai seorang yang bergelut di infrastructure dan architecture akhirnya bisa membantu juga.
Akhirnya di part terakhir, akhirnya di posisi ini saya menerapkan Blue-Green Deployment dan bertahan hingga saat ini. PR nya lagi saat itu adalah log, nah disini saya memutuskan menggunakan Grafana Stack (Loki, Alloy dan Tempo) sebagai medianya dan cukup stabil sampai sekarang
Berikut gambaran simpel Infrastructure saat ini

Berikut gambaran Deployment Proses Saat ini

How We Implement AI Agent Based for Infrastructure Monitoring
Artikel ini membahas penerapan AI Agent untuk memantau infrastruktur secara otomatis menggunakan log dan metrik. Tujuannya adalah mendeteksi aktivitas mencurigakan lebih awal, membantu tim merespons insiden lebih cepat, dan menjaga stabilitas sistem melalui monitoring 24/7
How We Migrated from Promtail to Grafana Alloy
A practical migration story from Promtail to Grafana Alloy for Kubernetes logging, without downtime and with better log pipelines.